Minggu, 18 April 2010

Tradisi kampungku yang mulai hilang

Tradisi merupakan kebiasaaan yang dilakukan oleh nenek moyang terdahulu dan dilakukan secara turun temurun. Tradisi diciptakan karena adanya mitos dan kepercayaan yang ada di masyarakat, sebagai sarana sosialisai dengan masyarakat lain, juga hanya sebagai sarana untuk mengisi waktu luang.

Pada saat ini teknologi berkembang sangat pesat. Pada dasarnya teknologi diciptakan untuk membantu kehidupan manusia agar pekerjaan yang dilaksanakan dapat terselesaikan dengan cepat dan efisien. Dampak yang ditimbulkan dari kehadiran teknologi ini dapat menghilangkan nilai-nilai tradisi yang ada di masyarakat. Yang paling besar kita rasakan adalah dari segi sosial.

Berikut merupakan contoh tradisi yang mulai hilang akibat perkembangan teknologi yang ada di kampung halaman saya:

***Nginang***
>>Teknologi: pasta gigi (penguat) dan pemerah bibir

>>Model kerja:
Orang menyikat untuk menguatkan gigi dengan menggunakan pasta gigi dan untuk memerahkan bibir dengan menggunakan lipstik.

Nginang:Sedulit kapur/enjet dioleskan di atas daun sirih, dan di atasnya ditaruh secuil kecil gambir, daun dilipat, dan kemudian dimasukkan mulut dan mulai dikunyah. Entah reaksi apa yang terjadi, tapi yang pasti makin lama warna di mulut berubah menjadi merah menyala. Sesaat kemudian, ludah berwarna merah terang akan mulai diludahkan. Setelah beberapa saat, akan disambung dengan gumpalan tembakau rajangan untuk membersihkan gigi dan bibir, serta dihisap-hisap.

>>Nilai etika tradisional yang hilang:
Di desa, nginang dilakukan oleh wanita secara bersama-sama diwaktu siang hari, karena siang hari adalah waktu istirahat setelah bekerja di sawah atau ladang. Selain nginang, mereka melakukan diskusi, cerita pengalaman, bahkan "ngrasani" tetangga lain. Nginang mempunyai manfaat untuk menguatkan gigi, oleh karena itu gigi orang dulu kuat-kuat, tidak bolong, meskipun belum ada pasta gigi. Selain itu warna merah yang ditimbulkan dapat memerahkan bibir secara alami dan tahan lama.

Sekarang sudah sangat jarang wanita yang melakukan aktivitas nginang. Walaupun ada dilakukan sendiri di rumah.



***Minyak goreng kelapa tradisional***
>>Teknologi: VCO (virgin coconut oil)

>>Model Kerja:
VCO:minyak kelapa yang dibuat dari bahan baku kelapa segar,diperas santannya diproses secara industri dengan pemanasan terkendali atau tanpa pemanasan sama sekali untuk memisahkan minyak, tanpa bahan kimia dan RDB


Tradisional:Kelapa yang sudah tua di parut, diperas kemudian dipanaskan secara terus menerus sampai santan menghilang, tinggal minyak dan ampas yang disebut blondo. Blondo diperas untuk memisahkan minyak yang ada di dalamnya.


>>Nilai etika tradisional yang hilang:
Pada pembuatan minyak kelapa tradisional, biasanya dilakukan oleh satu keluarga. Ada yang bertugas membersihkan kelapa dari tempurungnya, memarut, membuat santan, mengaduk adonan dan memeras minyak. Hal ini dapat menjaga komunikasi dan hubungan baik dalam keluarga. Tidak jarang ada tetangga yang ikut membantu.

Blondo atau ampas sisa minyak mempunyai rasa yang lumayan enak selain dimakan sendiri juga dibagi-bagikan ke tetangga yang dapat mempererat hubungan bertetangga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar